MAKALAH
DIAJUKAN UNTUK
MEMENUHI TUGAS IAD/ISD/IBD
TENTANG : PERANAN
MANUSIA DARI INDIVIDU DAN SOSIAL
Dosen pengampu : Moh. Imam Sufiyanto, S.Si., S.Pd.,M.Pd.
Disusun Oleh :
TAUFIQUL AMIN
DITA RESTI
M. HANIF
Prodi: PENDIDIKAN BAHASA ARAB
Jurusan : TARBIYAH
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan
2015
Kata Pengantar
Al-hamdulillah,
al-hamdulillahirobbil a’lamin, puji syukur Illahi Robbi atas rahmat Tuhan Yang
Maha Esa yang telah dan selalu memberikan hidayah serta karunia-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan tugas
makalah ini sesuai dengan apa yang diharapkan. Shalawat beserta salam semoga
selalu tercurahkan kepada putra padang pasir, yaitu sang revolusioner Islam
Muhammad SAW, sebagaimana yang telah memberikan penerangan kepada umat nya dari
zaman peradaban menuju zaman era globalisasi dengan pegangan kuat Ad-din-ul
Islam.
Makalah ini dengan judul Peranan Manusia dari Individu dan Sosial sengaja
kami susun untuk untuk memberikan wawasan serta pemahaman kepada kami khususnya
dan para pembaca pada umumnya akan pentingnya mengetahui bagaimana peranan kita
yang hakikatnya sebagai manusia di lingkungan kita baik secara individu atau
sosial. Yang dibantu oleh dosen pengampu
Moh. Imam Sufiyanto, S.Si., S.Pd.,M.Pd.
Selanjutnya, kami selaku
penulis mengakui bahwa dalam penulisan makalah ini tidaklah sempurna, dan masih
banyak kekurangan yang harus saya perbaiki. Untuk itu kami mengharap masukan
dan saran yang bersifat membangun dari para senior/dosen pengampu yang
membimbing kami dalam pembuatan makalah
Yang terakhir,
semoga makalah ini bisa memberikan manfaat yang besar kepada para pembaca
sekalian.
Pamekasan, September
2015
Penulis
Daftar Isi
Kata Pengantar..................................................................................................................i
Daftar Isi............................................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan..........................................................................................................1
A.
Latar
Belakang Masalah.....................................................................................1
B.
Rumusan
Masalah..............................................................................................1
C.
Tujuan
Penulisan................................................................................................2
BAB II Pembahasan.........................................................................................................2
A.
Hakekat
Manusia Sebagai Makhluk Individu...................................................2
B.
Hakekat
Manusia Sebagai Makhluk Sosial.......................................................5
C.
Interaksi
Sosial dan Sosialisasi..........................................................................6
D.
Keluarga.............................................................................................................8E.
Masyarakat.........................................................................................................9
F.
Peranan
Manusia Sebagai Makhluk Sosial & Makhluk Individu....................10
G.
Dilema
Antara Kepentingan Individu & Kepentingan Sosial..........................12
BAB III Penutup.............................................................................................................14
A.
Kesimpulan.................................................................................................14
B.
Saran...........................................................................................................14
Daftar Pustaka.................................................................................................................15
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Secara fisiologis peranan manusia sebagai makhluk individu dan
sosial itu bersifat bebas, tidak mempunyai hubungan yang ketat antara
sesama. Kata manusia berasal dari kata manu (Sansekerta) atau mens (Latin) yang
berarti berpikir, berakal budi, atau homo (Latin) yang berarti manusia. Istilah
individu berasal dari bahasa Latin, yaitu individu, yang artinya sesuatu yang
tidak dapat dibagi-bagi lagi atau suatu kesatuan yang terkecil dan terbatas.
Secara kodrati, manusia merupakan mahluk monodualis. Artinya selain sebagai
mahluk individu, manusia juga berperan sebagai mahluk sosial. Jiwa dan raga
inilah yang membentuk individu.
Manusia juga diberi kemampuan (akal, pikiran, dan perasaan)
sehingga sanggup berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya. Disadari
atau tidak, setiap manusia senantiasa akan berusaha mengembangkan kemampuan
pribadinya guna memenuhi hakikat individualitasnya (dalam memenuhi berbagai
kebutuhan hidupnya). Hal terpenting yang membedakan manusia dengan mahluk
lainnya adalah bahwa manusia dilengkapi dengan akal pikiran, perasaan dan
keyakinan untuk mempertinggi kualitas hidupnya. Manusia adalah ciptaan Tuhan
dengan derajat paling tinggi di antara ciptaan-ciptaan yang lain. Dalam
pembahasan tentang hakikat manusia sebagai makhluk individu dan sosial kita
bisa melihatnya dalam kehidupan sehari-hari, contohnya pada saat kita kesusahan
pasti kita membutuhkan bantuan dari orang lain dan ketika kita mempunyai
persoalan yang bersifat pasti kita akan menjadi manusia yang individu agar
orang lain tidak dapat mengetahui persoalan pribadi yang kita punya.
B.
Rumusan Masalah
Dalam bermasyarakat, banyak kita menjumpai perbedaan sifat antara
individu satu dengan individu lainnya. Adanya lembaga-lembaga sosial masyaraat
yang sengaja di bangun untuk menciptakan kehidupan sosial masyarakat yang
terhindar dari perilaku -perilaku individu yang menyimpang, untuk tercapainya
kesejahteraan hidup orang banyak .
Maka dalam makalah ini , kami akan membahas beberapa poin dari
hakekat manusia sebagai mahluk individu dan mahluk sosial . yaitu sebagai
berikut:
1. Bagaimana fugsi dan
peranan manusia dari individu dan sosial.
2. Menjelaskan fungsi dan tugas manusia sebagai
makhluk sosial.
3. Mengetahui berbagai kehidupan bermasyarakat dalam berbagai jenis
kehidupan.
C.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penyusunan makalah ini,
yakni sebagai berikut :
1. Melatih kemampuan untuk mengetahui makhluk individu
dan makhluk sosial.
2. Memperluas wawasan mengenai manusia sebagai makhluk
individu dan social.
3. Mampu mengetahui apa yang dimaksud manusia
sebagai makhluk individu dan sosial.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakekat Manusia sebagai Makhluk Individu
Individu berasal dari kata in dan devided. Dalam
Bahasa Inggris in salah satunya mengandung pengertian tidak,
sedangkan devided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi,
atau satu kesatuan. Dalam bahasa latin individu berasal dari kata individium
yang berarti yang tak terbagi, jadi merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai
untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan tak terbatas.
Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani,
unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai
manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika
unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut sebagai
individu. Dalam diri individi ada unsur jasmani dan rohaninya, atau ada unsur
fisik dan psikisnya, atau ada unsur raga dan jiwanya.
Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri, tidak
ada manusia yang persis sama. Dari sekian banyak manusia, ternyata
masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Seorang individu adalah perpaduan
antara faktor fenotip dan genotip. Faktor genotip adalah faktor yang dibawa
individu sejak lahir, ia merupakan faktor keturunan. Kalau seseorang individu
memiliki ciri fisik atau karakter sifat yang dibawa sejak lahir, ia juga
memiliki ciri fisik dan karakter atau sifat yang dipengaruhi oleh faktor
lingkungan (faktor fenotip). Faktor lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam
pembentukan karakteristik yang khas dari seseorang. Istilah lingkungan merujuk
pada lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Ligkungan fisik seperti kondisi
alam sekitarnya. Lingkungan sosial, merujuk pada lingkungan di mana seorang
individu melakukan interaksi sosial. Kita melakukan interaksi sosial dengan
anggota keluarga, dengan teman, dan kelompok sosial yang lebih besar. Karakteristik
yang khas dari seeorang dapat kita sebut dengan kepribadian. Setiap orang
memiliki kepribadian yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh faktor bawaan (genotip)
dan faktor lingkungan (fenotip) yang saling berinteraksi terus-menerus.
Individu dalam konsep sosiologi berarti manusia perorangan
sebagai lawan dari manusia berkelompok. Yang dimaksud manusia perorangan
bukanlah perorangan dalam jasmaniah tetapi dalam kerohaniannya.
Kehadiran individu dalam suatu masyarakat biasanya ditandai oleh
perilaku individu yang berusaha menempat kan dirinya dihadapan individu-individu
lainnya yang telah mempunyai pola perilaku sesuai dengan norma norma dan
kebudayaan setempat merupakan bagiannya. Menurut koentjaraningrat unsur
unsur kepriadian meliputi pengetahuan, perasaan, dan dorongan naluri.
Unsur dorongan naluri tidak kalah pentingnya untuk di pahami.
Dorogan naluri adalah sesuatu yang selalu ada pada setiap manusia atau dengan
kata lain merupakan sumber bahwa dari lahir dengan tanpa memperoleh pengetahuan
apapun sebelumnya. Ada beberapa macam dorongan yang perlu diketahui yaitu :
1. Dorongan untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya.
2. Dorongan sex
3. Dorongan untuk mencari makan.
4.
Dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain.
5. Dorongan untuk berbakti.
6. Dorongan akan keindahan.
Proses
dari indvidu untuk menjadi pribadi, tidak hanya didukung dan dihambat oleh
dirinya, tetapi juga didukung dan dihambat oleh kelompok sekitarnya.
a.
Proses Destruktif dan Konstruktif
Dalam proses untuk menjadi pribadi ini, individu dituntut untuk
menyesuaikan dengan lingkungan tempat ia berada. Lingkungan disini hendaknya
diartikan sebagai lingkungan fisik dan lingkungan psikis. Di dalam lingkungan
fisik, individu harus menyesuaikan dirinya dengan keadaan jasmaninya sedemikian rupa untuk berhadapan dengan individu lain dengan
keadaan jasmaninya yang sama atau berbeda sama sekali.
Prasarana fisik yang sedemikian adanya harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang terdiri dari individu-individu yang menganut sistem yang lama.
Prasarana fisik yang sedemikian adanya harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang terdiri dari individu-individu yang menganut sistem yang lama.
Individu tersebut menyesuaikan dirinya secara alloplastis, yaitu
individu di sini secara aktif mempengaruhi dan bahkan sering mengubah
lingkungannya. Atau sebaliknya individu menyesuaikan diri secara padif
(autoplastis), yaitu lingkungan yang akan membentuk pribadi seseorang. Pada
diri individu yang destruktif kita jumpai kecenderungn untuk memenuhi kebutuhan
psikis berlebihan.Biasanya mencari kepuasan temporal yang sering kali hanya
dinikmatinya sendiri, dan kalau mungkin hanya oleh segelintir individu-individu
lain yang menjadi kelompoknya, dan dalam melakukan ini, penampilannya akan
ditandai oleh tindakan yang semata- mata rasional kearah masa depan.
b.
Kompromistis dan Anti-Establishment
Sikap kompromis seseorang individu biasanya banyak disebabkan oleh
cara-cara yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan organik maupun kebutuhan
psikologis. Sikap anti- establishment ini merupakan sikap individual yang
berlebihan dalam hal individu berintaraksi dengan lingkungannya. Hal ini sangat
erat kaitannya dengan usaha individu dalam pencarian identitas diri yang
bersifat psikologis (in the search for self identity). Sehingga dalam proses
pencarian, akan terlihat penggambaran mengenai waktu diri sendiri yang sangat
dominan.
Perubahan dirasakan oleh hampir semua manusia dalam masyarakat.
Perubahan dalam masyarakat tersebut wajar, mengingat manusia memiliki kebutuhan
yang tidak terbatas. Kalian akan dapat melihat perubahan itu setelah
membandingkan keadaan pada beberapa waktu lalu dengan keadaan sekarang. Perubahan
itu dapat terjadi di berbagai aspek kehidupan, seperti peralatan dan
perlengkapan hidup, mata pencaharian, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian,
sistem pengetahuan, serta religi/keyakinan.
1.
Perkembangan Individu
Pekembanga manusia yang wajar dan normal harus melalui proses
pertumuhan dan perkembangan lahir dan batin. Perkembangan individu menjadi
seorang pribadi tidak hanya didukung dan dihambat oleh dirinya sendiri
melainkan juga didukung dan ihambat oleh kelompok disekitarnya.
Menurut Mursid Sumaatmadja, kelengkapan dn keserasian anggota
tubuh, ketajaman panca indra, susunan jaringan syaraf dan proses kerja hayat
lainya. Besar pengaruhnya terhadap perkembangan potensi potensi seorang
individu .
Pada masa dewasanya manusia lebih banyak menghadapi masalah hidup
yang tidak dapat dihadapi dengan insting atau kebiasaan kebiasaan saja.
Manusiapun mempunyai insting tetapi manusia tidak semata mata dikuasai oleh
insting. Manusia mempuyai kemampuan kemampuan yang dapat berkemang kesegala
arah untuk menyesuiakan diri dangan keadaan yang silih berganti. Manusia
mempunyai berbagai pembawaan, kesadaran, perasaan, cita cita, pikiran dan
sebagainya yang kesemaunya berpengaruh terhdap hidupnya.
Teori Perkembangan
a) Teori Navitisme (pembawaan)
Menurut
Schopen Heur (Jerman) bahwa perkembangan itu semata mata ditentukan oleh sesuatu yang telah ada di dalam diri
individu yang dibawa sejak lahir
b) Teori Empirisme (pengalaman)
Menurut
J. Locke (Inggris) bahwa perkemangan anak semata mata ditentukan oleh pengaruh
pengaruh dari luar berdasarkan pendapat tersebut berarti :
Ø Pembawaan kodrat (dasar, bakat, sifat sifat keturunan)
dimiliki sejak lahir tidak diakui.
Ø Peranan dari pembawaan, dasar, bakat tidak di akui
c)
Teori konvergensi (kerjasama peraduan)
Menurut W.stern (Jerman) bahwa perkembangan anak itu ditentukan
oleh proses kerjasama atau perpaduan antara faktor faktor dalam dan fakor
faktor luar.
d)
Teori Biogenetis (Teori ulangan)
Perkembangan suatu makhuk adalah ulangan dari pada perkembangan
seluruh jenisnya.
B. Hakekat Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Menurut kodratnya, manusia adalah makhluk sosial atau makhluk
bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang
berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai
makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan
masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam
berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat
dalam kehidupannya.
Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri
manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang
lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di
tengah-tengah manusia. Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin
bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan
tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi
kemanusiaannya.
Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial,
karena beberapa alasan, yaitu :
1. Karena manusia tunduk pada aturan
yang berlaku.
2. Perilaku manusia mengaharapkan
suatu penilain dari orang lain.
3. Manusia memiliki kebutuhan untuk
berinteraksi dengan orang lain.
4. Potensi manusia akan berkembang
bila ia hidup di tengah-tengah manusia.
Ciri manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial adalah adanya
suatu bentuk interaksi sosial didalam hubugannya dengan makhluk sosial lainnya.
Secara garis besar faktor-faktor personal yang mempengaruhi interaksi manusia
terdiri dari tiga hal yakni :
1.
Tekanan
emosional. Ini sangat mempengaruhi bagaimana
manusia berinteraksi satu sama lain
2.
Harga
diri yang rendah. Ketika
kondisi seseorang berada dalam kondisi manusia yang direndahkan maka akan memiliki
hasrat yang tinggi untuk berhubungan dengan orang lain kondisi tersebut dimana
orang yang direndahkan membutuhkan kasih sayang orang lain atau dukungan moral
untuk membentuk kondisi seperti semula.
3.
Isolasi
sosial. Orang yang terisolasi harus
melakukan interaksi dengan orang yang
sepaham atau sepemikiran
agar terbentuk sebuah interaksi ayang harmonis.
C. Interaksi
Sosial dan Sosialisasi
1.
Interaksi Sosial
Kata interaksi berasal dari kata inter dan action.
Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik saling mempengaruhi antara
individu, kelompok sosial, dan masyarakat. Interaksi adalah proses di mana
orang-oarang berkomunikasi saling pengaruh mempengaruhi dalam berpikir dan
bertindak. Seperti kita ketahui, bahwa manusia dalam kehidupan sehari-hari
tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain.
Interaksi sosial antar individu terjadi manakala dua orang bertemu,
interaksi dimulai pada saat itu mereka saling menegeur, berjabat tangan, saling
berbicara, atau bahkan mungkin berkelahi. Aktivitas-aktivitas semacam itu
merupakan bentuk-bentuk dari interaksi sosial.
Interaksi sosial terjadi dengan didasari oleh faktor-faktor sebagai
berikut :
- Imitasi adalah suatu proses peniruan atau meniru.
- Sugesti adalah suatu poroses di mana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau peduman-pedoman tingkah laku
orang lain tanpa dkritik terlebih dahulu. Yang dimaksud sugesti di sini adalah
pengaruh pysic, baik yang datang dari dirinya sendiri maupuhn dari orang
lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik. Arti sugesti dan imitasi
dalam hubungannya, dengan interaksi sosial adalaha hampir sama. Bedanya ialah
bahwa imitasi orang yang satu mengikuti salah satu dirinya, sedangkan pada
sugesti seeorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya, lalu diterima
oleh orang lain di luarnya.
- Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identi (sama)
dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun batiniah.
- Simpati adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang
lain. Simpati timbul tidak atas dasar
logis rasional, melainkan berdasarkan penilain perasaan seperti juga pada
proses identifikasi.
Bentuk-bentuk Interaksi Sosial.
Bentuk-bentuk intraksi sosial dapat berupa kerja sama
(cooperation), persaingan (competition), dan pertentangan (conflict). Suatu
keadaan dapat dianggap sebagai bentuk keempat dari interaksi sosial, keempat
pokok dari interaksi sosial tersebut tidak perlu merupakan kontinuitas dalam
arti bahwa interaksi itu dimulai dengan adanya kerja sama yang kemudian menjadi
persaingan serta memuncak menjadi pertiakain untuk akhirnya sampai pada
akomodasi.
·
Kerja
sama (cooperation).
Kerja sama
timbul karena orientasi orang perorangan terhadap kelompoknya dan kelompok
lainnya.
·
Akomodasi
(accomodation)
Akomodasi
adalah cara penyelesaian pertentangan antara dua pihak tanpa menghancurkan
salah satu pihak, sehingga kepribadian masing masing pihak tetap terpelihara.
·
Kontraversi
(contaversion).
Kontraversi
bentuk interaksi yang berbeda antara persaingan dan pertentangan. Kontaversi
ditandai oleh adanya ketidakpastian terhadap diri seseorang, perasaan tidak
suka yang disembunyikannya dan kebencian terhadap kepribadian orang, akan
tetapi gejala-gejala tersebut tidak sampai menjadi pertentangan atau
pertikaian.
·
Pertentangan
(conflict)
Pertentangan adalah suatu bentuk
interaksi antar individu atau kelompok sosial yang berusaha untuk mencapai
tujuannya dengan jalan menentang pihak lain disertai ancaman atau kekerasan.
Pertentangan memiliki bentuk khusus, antara lain: pertentangan pribadi,
pertentangan rasional, pertentangan kelas sosial, dan pertentangan politik.
2.
Sosialisasi.
Peter Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai suatu proses di
mana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam
masyarakat (Berger, 1978:116).Salah satu teori peranan dikaitkan sosialisasi
ialah teori George Herbert Mead. Dalam teorinya yang diuraikan dalam buku Mind,
Self, and Society (1972). Mead menguraikan tahap-tahap pengembangan secara
bertahap melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain, yaitu melalui
beberapa tahap-tahap play stage, game sytage, dan tahap generalized other.
Menurut Mead pada tahap pertama, play stage, seorang anak kecil mulai belajar mengambil peranan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Menurut Mead pada tahap pertama, play stage, seorang anak kecil mulai belajar mengambil peranan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Pada tahap game stage seorang anak tidak hanya telah mengetahui
peranan yang harus tetapi telah pula mengetahui peranan yang harus dijalankan
oleh orang lain dengan siapa ia berinteraksi. Pada tahap ketiga sosialisasi,
seseorang dianggap telah mampu mengambil peran-peran yang dijalankan orang lain
dalam masyarakat yaitu mampu mengambil peran generalized others. Ia telah mampu
berinteraksi dengan orang lain dalam masyarakat karena telah memahami
peranannya sendiri serta peranan orang-orang lain dengan siapa ia berinteraksi.
Menurut Cooley konsep diri (self-concept) seseorang berkembang
melalalui interaksinya dengan orang lain. Diri yang berkembang melalui interaksi
dengan orang lain ini oleh Cooley diberi nama looking-glass self.
Cooley berpendapat looking-glass self terbentuk melalui tiga tahap.
Tahap pertama seseorang mempunyai persepsi mengenaoi pandangan orang lain
terhadapnya. Pada tahap berikut seseorang mempunyai persepsi mengenai penilain
oreang lain terhadap penampilannya. Pada tahap ketiga seseorang mempunyai
perasaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain
terhadapnya itu.
Pihak-pihak yang melaksanakan sosialisasi itu menurut Fuller and
Jacobs (1973:168-208) mengidentifikasikan agen sosialisasi utama: keluarga,
kelompok bermain, media massa, dan sistem pendidikan.
D. Keluarga
Kelarga adalah unit/satuan masyarakat terecil yang sekaligus
merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat .Keluarga merupakan sebuah grup
yang terbentuk dari perhimpunan laki laki dan perempuan yang berlangsung lama
untuk menciptakan dan membesarkan anak anaknya. Jadi keluarga dalam bentuk yang
murni merupakan suatu kesatuan sosial yang terdiri dari suami istri dan anak
anak yang belum dewasa.
1.
Fungsi Keluarga
a. Fungsi Hubungan Seksual
Mengenai fungsi seksual dalam keluarga dapat di kemukakan bahwa,
privilage seksual yang diberikan kepada dua orang suami istri. Itu memperkokoh
hubungan mereka didalam keluarga keluarga inti terseut di dalam melaksanakan
fungi seksual dalam keluarga, tiap tiap masyarakat menyusun tata tertib
berdasarkan atas nilai nilai sosial budaya dan faktor kebtuhan biologis.
b. Fungsi Ekonomi
Untuk kegiatan hidupnya keluarga harus mengusahakan penghidupannya.
Di dalam masyarakat yang sederhana, pembagian kerja dalam kerjasama ekonomi
dilakukan antara anggota keluarga. Tugas anggota keluarga dan kerjasama ekonomi
itu pada umumnya saling melengkapi. dan pembagian tugas serta pekerjaan yang di
lakukan oleh anggota anggota keluarga seperti suami istri. Khususnya oleh para
wanita pada umumnya lebih banyak ditentukan oleh faktor kebudayaan dari pada
kondisi fisik maupun psikologi.
c. Fungsi Reproduksi
Dorongan dasar dari manusia untuk melangsungkan kehidupan jenisnya
menimbulkan basic needs untuk menimbulkan daya tarik seks, percintaan,
pengorbanan menimbulkan seksual yang kemudian dapat menghasilkan keturunan.
d. Fungsi Edukasi
Dari lingkungan keluarga tersebut anak belajar berbahasa,
mengumpulkan pengertian pengertian dan menggunakan nilai nilai kebudayaan yang
berlaku. Dia akan dibebankan dalam keluarga pada masa kanak kanak di sesuaikan
dengan daya tangkap dan sifat sifat emosionalnya.
E.
Masyarakat
Menurut WJs. Poerwodarmato masyarakat adalah pergaulan hidup
manusia dalam suatu tempat dengan ikatan ikatan dan aturan tertentu. Sedangkan
menurut linton, masyarakat itu timbul dari setiap kumpulan individu individu
yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama. Dalam wakatu yang lama itu
kelompok manusia yang belum terorganisasi mengalami proses fundamental yaitu
adaptasi dan organisasi dari tingkah laku dari anggota anggota.
Dapat disimpulkn bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang
telah lama bertempat tinggal disuatau daerah tertentu dan mempunyai aturan yang
mengatur tata hidup mereka untuk menuju kepeda tujuan yang sama.
Unsur Unsur Terbentuknya Masyarakat :
Faktor Faktor Yang Mendorong Manusia Hidup Bersama :
a)
Adanya
dorongan seksual yaitu dorongan manusia untuk mengembangkan keturunan atau
jenisnya.
b)
Adanya
kenyataan bahwa manusia itu adalah seibu tidak bisa atau sebegai makhluk lemah.
Karena itu mendesak atau mencari kekuatan bersama yang terdapat dalam
perserikatan dengan orang lain sehingga mereka berlindung bersama sama dan
mengejar kebutuhan hidup sehari hari.
c)
Adanya
kesamaan keturunan, kesamaan teritorial, kesamaan nasib, kesamaan
keyakinan/cita cita serta kesamaan kebudayaan.
Jika pembagian kerja bertambah kompleks suatu tanda bahwa kapasitas
masyarakat semakin tinggi. Solidaritas didasarkan pada hubungan saling
ketergantungan antar kelompok masyarakat.
1) Kelompok primer
Adalah kelompok yang ditandai ciri ciri saling mengenal antar
anggota anggotanya serta kerja sama erat dan bersifat pribadi, sebagai salah
satu hasil hubungan yang erat dan bersifat pribadi adalah peleburan indiviu
individu dalam suatu kelompok sehingga tujujuan individu adalah tujuan
kelompok.
2) Kelompok Sekunder
Adalah kelompok yang tidak saling mengenal dalam hubungan secara
langsung.
F.
Peranan Manusia Sebagai Mahluk Sosial Dan Mahluk Individu
Sebagai mahluk hidup yang berada di muka bumi ini keberadaan
manusia adalah sebagai mahluk individu dan mahluk sosial, dalam arti manusia
senantiasa tergantung dan berinteraksi dengan sesamanya. Dengan demikian, maka
dalam kehidupan lingkungan sosial manusia senantiasa terkait dengan interaksi
antara individu manusia, interaksi antar kelompok, kehidupan sosial manusia
dengan lingkungan hidup dan alam sekitarnya, berbagai proses sosial dan
interaksi sosial, dan berbagai hal yang timbul akibat aktivitas manusia seperti
perubahan sosial.
Secara sosial sebenarnya manusia merupakan mahluk individu dan
sosial yang mempunyai kesempatan yang sama dalam berbagai hidup dan kehidupan
dalam masyarakat. Artinya setiap individu manusia memiliki hak, kewajiban dan
kesempatan yang sama dalam menguasai sesuatu, misalnya bersekolah, melakukan
pekerjaan, bertanggung jawab dalam keluarga serta berbagai aktivitas ekonomi,
politik dan bahkan beragama.
Namun demikian, kenyataannya setiap individu tidak dapat menguasai
atau mempunyai kesempatan yang sama. Akibatnya, masing-masing individu
mempunyai peran dan kedudukan yang tidak sama atau berbeda. Banyak faktor yang
menyebabkan itu bisa terjadi, misalnya kondisi ekonomi (ada si miskin dan si
kaya), sosial (warga biasa dengan pak RT, dll), politik (aktivis partai dengan
rakyat biasa), budaya (jago tari daerah dengan tidak) bahkan individu atau
sekelompok manusia itu sendiri. Dengan kata lain, stratifikasi sosial mulai
muncul dan tampak dalam kehidupan masyarakat tersebut.
Berbagai kelompok sosial tumbuh seiring dengan kebutuhan manusia
untuk saling berinteraksi. Dalam berbagai kelompok sosial ini, manusia
membutuhkan norma-norma pengaturannya. Terdapat norrma-norma sosial sebagai
patokan untukbertingkah laku bagi manusia di kelompoknya. Norma-norma tersebut
ialah:
Norma agama atau religi, yaitu norma yang bersumber dari Tuhan yang
diperuntukkan bagi umat-Nya. Norma agama berisi perintah agar dipatuhi dan
larangan agar dijauhi umat beragama. Norma agama ada dalam ajaran-ajaran agama.
Norma kesusilaan atau moral, yaitu norma yang bersumber dari hati
nurani manusia untuk mengajak kepada kebaikan dan menjauhi keburukan. Norma
moral bertujuan agar manusia berbuat baik secara moral. Orang berkelakuan baik
adalah orang yang bermoral, sedangkan orang yang berkelakuan buruk adalah orang
tidak bermoral atau amoral.
Norma kesopanan atau adat adalah norma yang bersumber dari
masyarakat dan berlaku terbatas pada lingkungan masyarakat yang bersangkutan.
Norma ini di maksudkan untuk menciptakan keharmonisan hubungan antarsesama.
Norma hukum, yaitu norma yang dibuat masyarakat secara remi
(negara) yang pemberlakuannya dapat dipaksakan. Norma hukum yang brsifat tertulis.
Selain itu, norma dapat dibedakan pula menjadi empat macam berdasarkan kekuatan berlakunya dimasyarakat.
Selain itu, norma dapat dibedakan pula menjadi empat macam berdasarkan kekuatan berlakunya dimasyarakat.
Ada norma yang daya ikatnya sangat kuat, sedang, dan ada pula norma
yang daya ikatnya sangat lemah. Keempat jenis tersebut adalah cara (usage), kebiasaan
(folkways), tata kelakuan (mores), dan adat istiadat (costum).
1)
Cara
(usage)
Cara adalah
bentuk kegiatan manusia yang daya ikatnya sangat lemah. Norma ini lebih
menonjol dalam hubungn antarindividu atau perorangan. Pelanggaran terhadap
norma ini tidak mengakibatkan hukuman yang berat, tetapi sekedar celaan.
Contohnya cara makan, ada yang makan sambil berdiri dan ada yang makan sambil
duduk. Cara makan sambil duduk dianggap lebih panas dibandingkan cara makan
sambil bediri.
2)
Kebiasaan
(falkways)
Kebiasaan
adalah kegiatan atau perbuatan yang di ulang-ulang dalam bentuk yang sama oleh
orang banyak kerana disukai. Norma ini lebih kuat daya ikatnya dari pada norma
cara. Contohnya, kebiasaan salam bila bertemu.
3)
Tata
kelakuan (mores)
Tata kelakuan
adalah kebiasaan yang di anggap sebagai norma pengatur. Sifat norma ini disatu
sisi sebagai pemaksa suatu perbuatan dan disisi lain sebagai suatu larangan.
Dengan demikian, tata kelakuan dapat menjadi acuan agar masyarakat menyusuaikan
diri dengan kelakuan yang ada serta meninggalkan perbuatan yang tidak sesui
dengan tata kelakuan.
4)
Adat
istiadat (custom) Adat istiadat adalah kelakuan yang telah menyatu kuat dalam
pola-pola perilaku sebuah masyarakat.
G. Dilema
Antara Kepentingan Individu Dan Kepentingan Sosial
Setiap yang disebut manusia selalu terdiri dari dua kepentingan,
yaitu kepentingan individu yang termasuk kepentingan keluarga, kelompok atau
golongan dan kepentingan masyarakat yang termasuk kepentingan rakyat . Dalam
diri manusia, kedua kepentingan itu satu sama lain tidak dapat dipisahkan.
Apabila salah satu kepentingan tersebut hilang dari diri manusia, akan terdapat
satu manusia yang tidak bisa membedakan suatu kepentingan, jika kepentingan
individu yang hilang dia menjadi lupa pada keluarganya, jika kepentingan
masyarakat yang dihilangkan dari diri manusia banyak timbul masalah
kemasyarakatan contohnya korupsi. Inilah yang menyebabkan kebingungan atau
dilema manusia jika mereka tidak bisa membagi kepentingan individu dan
kepentingan masyarakat.
1. Pandangan Individualisme
Individualisme berpangkal dari konsep bahwa manusia pada hakikatnya
adalah makhluk individu yang bebas. Paham ini memandang manusia sebagai makhluk
pribadi yang utuh dan lengkap terlepas dari manusia yang lain. Pandangan individualisme
berpendapat bahwa kepentingan individulah yang harus diutamakan. Yang menjadi
sentral individualisme adalah kebebasan seorang individu untuk merealisasikan
dirinya. Paham individualisme menghasilkan ideologi liberalisme. Paham ini bisa
disebut juga ideologi individualisme liberal.
Paham individualisme liberal muncul di Eropa Barat (bersama paham
sosialisme) pada abad ke 18-19. Yang dipelopori oleh Jeremy Betham, John Stuart
Mill, Thomas Hobben, John Locke, Rousseau, dan Montesquieu. Beberapa prinsip
yang dikembangkan ideologi liberalisme adalah sebagai berikut. Penjaminan hak
milik perorangan. Menurut paham ini , pemilikan sepenuhnya berada pada pribadi
dan tidak berlaku hak milik berfungsi sosial,
1. Mementingkan diri sendiri atau
kepentingan individu yang bersangkutan.
2. Pemberian kebebasan penuh pada
individu
3. Persaingan bebas untuk mencapai
kepentingannya masing-masing.
Kebebasan dalam rangka
pemenuhan kebutuhan diri bisa menimbulkan persaingan dan dinamika kebebasan antar
individu. Menurut paham liberalisme, kebebasan antar individu tersebut bisa
diatur melalui penerapan hukum. Jadi, negara yang menjamin keadilan dan
kepastian hukum mutlak diperlukan dalam rangka mengelola kebebasan agar tetap
menciptakan tertibnya penyelenggaraan hidup bersama.
2. Pandangan Sosialisme
Paham sosialisme ditokohi oleh Robert Owen dari Inggris
(1771-1858), Lousi Blanc, dan Proudhon. Pandangan ini menyatakan bahwa
kepentingan masyarakatlah yang diutamakan. Kedudukan individu hanyalah objek
dari masyarakat. Menurut pandangan sosialis, hak-hak individu sebagai hak dasar
hilang. Hak-hak individu timbul karena keanggotaannya dalam suatu komunitas
atau kelompok.
Sosialisme adalah paham yang mengharapkan terbentuknya masyarakat
yang adil, selaras, bebas, dan sejahtera bebas dari penguasaan individu atas
hak milik dan alat-alat produksi. Sosialisme muncul dengan maksud kepentingan
masyarakat secara keseluruhan terutama yang tersisih oleh system liberalisme,
mendapat keadilan, kebebasan, dan kesejahteraan. Untuk meraih hal tersebut,
sosialisme berpandangan bahwa hak-hak individu harus diletakkan dalam kerangka
kepentingan masyarakat yang lebih luas.
Dalam sosialisme yang radikal/ekstem (marxisme/komunisme) cara
untuk meraih hal itu adalah dengan menghilangkan hak pemilikan dan penguasaan
alat-alat produksi oleh perorangan. Paham marxisme/komunisme dipelopori
oleh Karl Marx (1818-1883).
Paham individualisme liberal dan sosialisme saling bertolak
belakang dalam memandang hakikat manusia. Dalam Declaration of Independent
Amerika Serikat 1776, orientasinya lebih ditekankan pada hakikat manusia
sebagai makhluk individu yang bebas merdeka, manusia adalah pribadi yang
memiliki harkat dan martabat yang luhur. Sedangkan dalam Manifesto Komunisme
Karl Marx dan Engels, orientasinya sangat menekankan pada hakikat manusia
sebagai makhluk sosial semata. Menurut paham ini manusia sebagai makhluk
pribadi yang tidak dihargai. Pribadi dikorbankan untuk kepentingan negara.
Dari kedua paham tersebut terdapat kelemahannya masing-masing.
Individualisme liberal dapat menimbulkan ketidakadilan, berbagai bentuk
tindakan tidak manusiawi, imperialisme, dan kolonialisme, liberalisme mungkin
membawa manfaat bagi kehidupan politik, tetapi tidak dalam lapangan ekonomi dan
sosial. Sosialisme dalam bentuk yang ekstrem, tidak menghargai manusia
sebagai pribadi sehingga bisa merendahkan sisi kemanusiaan. Dalam negara
komunis mungkin terjadi kemakmuran, tetapi kepuasan rohani manusia belum tentu terjamin.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Manusia sebagai makhluk individu dalam arti tidak dapat dipisahkan
antara jiwa dan raganya oleh karena itu dalam proses perkembangannya perlu
keteraduan antara perkembangan jasmani maupun rohani. Namun keluarga adalah sebagai
suatu tempat untuk memenuhi hasrat dan keinginannya baik secara biologis
maupun psikis. Sedangkan masyarakat adalah suatu wadah bagi individu dan
individu lainnya membentuk suatu sosialisasi atau hubungan yang lebih luas.
B.
Saran
Selain menarik kesimpulan di atas, kami juga memberikan saran
yaitu. Sebagai mahluk indvidu yang berpendidikan dan sadar akan ketergantungan
kita terhadap individu lain , Sebaiknya
kita harus mengetahui peran ataupun fungsi kita sebagai makhluk individu maupun
social.
Agar tidak terjadi kesalah pahaman ataupun pertikaian dalam proses
sosialisasi, yang dapat mengganggu ketentraman hidup individu – individu lainya.
Daftar Pustaka
Ø H. M. Arifin noor. 1997. Ilmu sosial dasar. Bandung ; cv. Pustaka setia
Ø William A, Haviland, R.G. Soekadijo. 2003. Antropologi Jilid I. Jakarta: Airlangga
Ø Hartomo dan Anircun aziz. Ilmusosial dasar (Jakarta;
Bumi Sksara. 1997) hal 61
Ø
Ahmadi, Abu.
2009. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta:
Rineka Cipta.
Ø Suratman, Munir, dan Salamah, Umi. 2013. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Malang: Intimedia.
Tag :
makalah

0 Mayu kana' jhek rasarah jhek kun becah malolo tang blog rea mara komentari blog rea se ajudul "PERANAN MANUSIA DARI INDIVIDU DAN SOSIAL"